Sistem Informasi Penyelamatan Cagar Budaya Kabupaten Magetan
Makam Hastana Giripurno
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
1. Bangunan Makam Hastana Giripurno
Bangunan Makam Hastana Giripurno berada di Puncak Gunung Bancak Desa Giripurno Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan. Sebelum memasuki bangunan utama, terdapat gapura paduraksa dengan struktur bata merah berplester dan cat berwarna putih. Gapura Paduraksa umumnya berfungsi sebagai pembatas antara halaman luar dengan halaman utama (tempat yang lebih suci/sakral) (Fitri, 7 : 2018). Sebelum memasuki gapura paduraksa terdapat beberapa anak tangga dengan tiga teras dengan material batu alam. Terdapat tiga pintu pada gapura paduraksa tersebut yaitu sisi selatan, tengah, dan sisi utara. Ketiga pintu ini berupa kupu tarung dengan bukaan ke dalam. Gapura ini menghadap ke timur. Bagian atap terdapat tulisan dengan aksara jawa baru.
Pada halaman utama terdapat pohon spreh, beberapa makam, dan bangunan utama. Di dalam bangunan utama tersebut terdapat beberapa makam tokoh yaitu Makam K.P.A.H Raden Ronggo Prawirodirjo III, makam G.K.R. Maduretno, dan beberapa makam abdi dalem. Bangunan utama terbagi menjadi dua ruang yaitu serambi dan ruang makam utama. Fasad bangunan utama ini berciri khas arsitektur indis empire style. Hal ini dapat diidentifikasi dari adanya empat buah pilar bangunan berjenis tuscan yang berfungsi sebagai penopang atap serambi. Tipologi keempat pilar ini berbentuk silinder dengan ornamen sederhana yaitu terdapat hiasan spiral dan geometris pada bagian kepala. Pilar jenis Tuscan memberi kesan gigantis dan kokoh. Kolom Tuscan ini menggambarkan bangunan penguasa yang berwibawa (Sukarno dkk, 2014). Dinding serambi berupa perpaduan tembor cor beton (bagian bawah) dan kaca (bagian atas). Perpaduan tembok ini terdapat di sisi depan dan samping kanan kiri bangunan. Pada dinding tembok terdapat hiasan dengan motif geometris. Lantai ruang serambi berbahan material keramik. Ruang serambi dengan ruang utama dihubungkan sebuah pintu yang terdiri dari dua daun pintu bukaan ke dalam dan dua panil bagian atas berbentuk krepyak. Terdapat hiasan geometris dengan cat warna kuning sedangkan daun pintu berwarna hijau. Pada sisi kanan dan kiri pintu terdapat jendela dengan panil krepyak pada bagian atas, sedangkan bagian bawah terdapat motif geometris berwarna kuning.
Ruang utama terdiri dua level lantai berbahan material Lantai bawah berbahan material keramik dan terdapat empat nisan abdi dalem. Lantai bawah dan atas dihubungkan oleh tangga berbahan keramik. Pada lantai teratas terdapat nisan bercungkup berbahan kayu yaitu nisan KPAH. Raden Ronggo Prawirodirjo III, GKR. Maduretno, dan Nisan abdi dalem. Atap di ruang utama berupa limasan yang ditopang oleh empat saka guru berbahan kayu jati. Bangunan Hastana Girupurno telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui Keputusan Bupati Magetan Nomor : 100.3.4.2/33/Kept./403.013/2026
2. Makam G.K.R Maduretno
Makam G.K.R Maduretno terletak di Desa Giripurno Kecamatan Kawedanan. Makam G.K.R Maduretno terletak bersebelahan dengan makam KPH Raden Ronggo Prawirodirjo III yang merupakan Suami Beliau. Selain makam G.K.R Maduretno dan makam KPH Raden Ronggo Prawirodirjo III di dalam bangunan utama juga terdapat satu makam abdi dalem. Posisi makam G.K.R Maduretno berada di tengah, diapit oleh makam KPH Raden Ronggo Prawirodirjo III di sebelah barat dan makam abdi dalem di sebelah timur. Makam G.K.R Maduretno terdiri atas nisan dan jirat yang berbahan batu putih. Ukuran makam G.K.R Maduretno adalah sebagai berikut:
Panjang Jirat: 256 cm
Lebar Jirat: 89 cm
Tinggi Jirat: 108 cm
Lebar Nisan: 43 cm
Tinggi Nisan: 68 cm
Lebar Lapik Nisan: 43 cm
Tinggi Lapik Nisan: 10 cm
Jirat makam G.K.R Maduretno tersusun dari 13 lapisan batu putih dengan motif ragam hias yang berbeda. Lapisan batu putih ke-1 (dasar) hingga lapisan batu putih ke-7 tidak memiliki motif ragam hias atau polos. Lapisan batu putih ke- 8 hingga ke- 9 terdapat motif geometris dengan bentuk segitiga, dan lapisan ke-10 hingga 13 terdapat motif lengkung. Nisan mempunyai bentuk dasar segi empat pipih dengan ragam hias berupa pelipit. Kepala nisan berbentuk dua buah lengkung (menyerupai kurawal, tetapi tidak memiliki tonjolan atau bentuk segitiga pada bagian tengah) yang menyatu dengan badan nisan dengan ukuran semakin ke bawah semakin mengecil. Nisan memiliki motif pilin berganda dengan hiasan pada bagian kepala nisan berupa motif suluran, sedang bagian badan hiasan yang digunakan berupa motif tumpal berbentuk segitiga. Pada bagian bawah nisan (diantara nisan dan jirat) terdapat lapik yang memiliki ragam hias bentuk padma / teratai. Makam G.K.R Maduretno telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui Keputusan Bupati Magetan Nomor : 100.3.4.2/34/Kept./403.013/2026
3. Makam K.P.A.H Raden Ronggo Prawirodirjo III
Makam K.P.A.H Raden Ronggo Prawirodirjo III berada di Kompleks Makam Giripurno, Desa Giripurno Kecamatan Kawedanan. Makam K.P.A.H Raden Ronggo Prawirodirjo III berada di dalam bangunan utama di kompleks makam tersebut. Selain Makam K.P.A.H Raden Ronggo Prawirodirjo III, terdapat 2 makam lainnya yang berada di bangunan utama yaitu Makam G.K.R. Maduretno dan sebuah makam abdi dalem. Posisi Makam K.P.A.H Raden Ronggo Prawirodirjo III berada di sisi paling barat diantara dua makam lainnya. Makam K.P.A.H Raden Ronggo Prawirodirjo III terdiri atas nisan dan jirat yang berbahan batu putih. Ukuran Makam K.P.A.H Raden Ronggo Prawirodirjo III sebagai berikut :
Panjang jirat : 253 cm
Lebar jirat : 84 cm
Tinggi jirat : 107 cm
Tinggi nisan : 52 cm
Lebar nisan : 39 cm
Lebar lapik nisan. : 43 cm
Tinggi lapik nisa. : 12 cm
Jirat ini tersusun 13 lapisan batu putih dengan ragam hias yang berbeda. Lapisan batu putih ke-1 (dasar) hingga lapisan batu putih ke-5 polosan, Lapisan batu putih ke- 6 hingga ke- 9 terdapat motif geometris dengan bentuk segitiga, dan lapisan ke-10 hingga 13 terdapat motif lengkung.
Bagian kepala pada nisan berbentuk lengkung kurawal. Bentuk kepala nisan kurawal memiliki dua lengkungan menonjol bagian kanan dan kiri dari pada bagian tengahnya. Pada bagian badan terdapat hiasan meru atau tumpal berbentuk segitiga yang bermakna keterikatan antara manusia dengan Tuhan (Rosida, 72 : 2025). Nisan pada bagian kaki berbentuk segi empat dengan hiasan pelipit. Nisan ini beralaskan lapik berbentuk trapesium tanpa hiasan. Makam K.P.A.H Raden Ronggo Prawirodirjo III telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui Keputusan Bupati Magetan Nomor : 100.3.4.2/30/Kept./403.013/2026
Situs Petirtaan Dewi Sri Petirtaan Dewi Sri Terletak di Desa Simbatan, Kec. Nguntoronadi, Kab. Magetan. Petirtaan Dewi Sri memiliki denah persegi panjang dengan ukuran 11 x 9 m yang hampir semua susunannya menggunakan bahan bata. Secara keruangan, petirtaan ini terbagi atas dua ruang yaitu ruang depan yang berada di sebelah timur dan ruang belakang yang berada di sebelah barat. Dalam laporan Studi teknis yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, ruang depan disebut dengan teras halaman. Sedangkan ruang belakang terdiri dari 3 bilik yaitu bilik utama yang berada ditengah-tengah, bilik utara dan bilik selatan. Teras halaman memiliki denah persegi panjang dengan ukuran 11 m x 4,9 m. Pada dinding teras sisi utara terdapat hiasan dengan profil-profil pilar yang berjumlah empat buah. Pada kedua profil pilar yang berada ditengah terdapat dua buah arca yang digambarkan sebagai seorang tokoh Wanita sedang duduk bersimpuh memegang padma...
Prasasti Bungkuk Terletak di RT 06 RW 02, Lingkungan Tlaji, Dusun Ngrombo, Desa Bungkuk, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan berada di lahan milik Bapak Sadikan. Prasasti ini juga dikenal sebagai Prasasti batu angka atau masyarakat sekitar menyebutnya watu ongko. Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu monolith berbahan dasar andesit dengan ukuran diameter 232 cm serta tinggi 157 cm. Pada sisi muka depan terdapat 4 baris inskripsi dengan huruf jawa kuno yang dituliskan secara vertikal dengan pembacaan dari bawah ke atas. Jika diidentifikasi, inskripsi ini yang terpahat pada objek ini bertipe aksara kwadrat. Aksara kwadrat banyak dijumpai pada prasasti-prasasti pendek dan merupakan salah satu ciri khas yang berkembang era Kerajaan Kadiri. Beberapa inskripsi yang dapat terbaca diantaranya ; Mikuireng (dengarkan/perhatian) Angka tahun 1056 saka Cayacaya (cahaya) Kuja kukuni (belum diketahui artinya) ...
Dasar Hukum: UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya PP No. 1 Tahun 2022 tentang Registrasi Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya Permendikbudristek No. 36 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Registrasi Nasional Cagar Budaya
Comments
Post a Comment